Anagata Diksatra 2025: Gelanggang Citra Samhita (Gemerlap Bahasa, Gelorakan Karya)

Magelang, 16 Oktober 2025 — Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Himaprodi PBSI) Universitas Tidar kembali menghadirkan gebrakan baru melalui pagelaran Anagata Diksatra 2025, sebuah acara tahunan yang menjadi ajang kreasi, ekspresi, dan apresiasi mahasiswa dalam bidang seni, Bahasa dan sastra, serta kebudayaan.

Acara yang berlangsung meriah ini dibuka dengan registrasi dan persiapan peserta, diiringi semarak bazar dari mahasiswa yang menampilkan beragam produk kuliner. Suasana hangat mulai terasa ketika dosen dan panitia melakukan improvisasi persiapan, menandai semangat kebersamaan antara sivitas akademika PBSI.

Pertunjukan Tari Gambyong Pareanom. oleh Maolia, Nadya, Salaminingsih, Arvika, dan Sinta menjadi pembuka yang memukau. Gerak gemulai para penari sukses menggambarkan keanggunan budaya yang tetap lestari di tengah generasi muda yang mulai mengesampingkan nilai-nilai tradisi.

Usai penampilan tersebut, acara dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya sebagai simbol nasionalisme dan penghormatan kepada tanah air. Rangkaian sambutan kemudian mengalir, dimulai dari Ketua Panitia Kholifah Fauzianti, Ketua Himaprodi M. Zainur Rokhman, Gugus mahasiswa Winasti Rahma Diani, S.Hum., M.Hum., Koordinator Prodi Dr. Ayu Wulandari, S.Pd., M.Pd., hingga Ketua Jurusan Muhammad Daniel Fahmi Rizal, M.Hum. yang semuanya memberikan apresiasi tinggi atas semangat mahasiswa dalam berkarya dan menjaga semangat sastra di kampus.

Bagian inti acara dipenuhi dengan suguhan seni yang memanjakan mata dan telinga. Penampilan musik dan puisi silih berganti. Mulai dari Yamin Oktarinda dengan lagu Kupu-kupu (Tiara Andini), Ismatul Khasanah membacakan puisi berjudul Sajak Pertemuan Mahasiswa karya W.S. Rendra, Bayu Aji menampilkan puisi berjudul Tanah Air Mata karya Sutardji Calzoum Bachri, serta Ipo Anjiany membawakan puisi dengan judul Karawang Bekasi karya Chairil Anwar.

Sementara itu, Tari Jaipong Ronggeng Nyentrik oleh Zaki, Sit Murwadila, Ardina Rasti, Sabrina Malakiya, dan Puspita menambah semarak suasana dengan gerak lincah dan ekspresif. Tidak kalah memukau, penampilan teatrikal puisi bertajuk Gelora Suara Rakyat oleh Diah Fani, Tiara Khoirunnisa, Kuni Faizah, dan Fatih Nurul menggugah emosi penonton dengan kekuatan narasi dan ekspresi tubuh yang padu.

Acara juga dimeriahkan oleh penampilan menyanyi dari Ella yang menyanyikan lagu Sabar karya Sadewok, Ainur Rahma membawakan lagu Pupus karya Dewa 19. Tidak hanya itu, seluruh panitia, talent, dan peserta turut bergoyang dalam sesi Senam Maumere yang menciptakan momen hangat dan penuh keceriaan sebagai simbol kebersamaan.

Memasuki sesi kedua, penonton kembali melakukan registrasi sebelum acara dibuka dengan monolog “Ambina Tak Sengaja” oleh Intan Nurizta dan Shinta Febriany.

Pementasan teater Salah Kiprah menjadi penutup yang megah sekaligus puncak dari seluruh rangkaian acara Anagata Diksatra 2025. Pertunjukan ini dibawakan oleh Anggra, Rifki, Annisa, Yunisa, Darojatun, Elvan Triadi, Bayu, dan Islamuna, di bawah arahan Sutradara Anand De Arfianshah. Naskah yang ditulis oleh Hanifah Khairunnisa berhasil menghidupkan kisah dengan sentuhan drama, humor, dan pesan sosial yang kuat. Melalui akting yang ekspresif dan alur yang mengalir, Salah Kiprah mampu mengajak penonton tertawa sekaligus merenung. Para pemain menampilkan kekompakan dan penghayatan peran yang memukau, menjadikan teater ini sebagai penutup yang berkesan dan mengundang tepuk tangan panjang dari seluruh penonton.

Kemeriahan Anagata Diksatra 2025 ditutup dengan rasa bangga dan haru. Seluruh peserta, panitia, dan dosen saling memberi apresiasi atas keberhasilan acara ini sebagai wadah ekspresi dan pelestarian budaya sastra.

“Anagata Diksatra sebagai ruang apresiasi bagi para insan sastra untuk mempersembahkan karya terbaiknya.” ujar Kholifah Fauzianti, selaku Ketua Panitia.

Ujaran tersebut sejalan dengan semangat Anagata Diksatra 2025 yang menjadi bukti bahwa mahasiswa PBSI Universitas Tidar terus menyalakan api kreativitas dan menjaga tradisi sastra agar tetap hidup di tengah arus akhir zaman.

 

Penulis: Anand De Arfianshah Wicaksono dan Hanifatun Ngaliah.

Komentar